Kupandangi lampu yang berpijar di kamarku. Aku terbayang bila tanpa lampu ini, kamarku akan gelap. Kusipitkan mataku, semakin lama semakin silau.
Perlahan mataku terpejam, aku tertidur. Kubuka kembali mataku, aku ada disebuah ruangan yang gelap. Hanya ada bias cahaya dari ventilasi, aku bisa melihat sudut ruangan ini. Itu siapa? Ia berbalik. Ia adalah aku!
"K..Kau..." kataku terbata-bata.
Ia tak berkata apapun.
"Siapa kau?!" tanyaku setengah berteriak.
Ia tak menjawab. Aku hanya bisa terbelalak ketakutan. Ia bahkan lebih menyeramkan dari dewi kematian.
Melihatku ketakutan, ia menunduk. Tampak senyum jahat tersungging di bibirnya. Ia membelai pipiku.
"Siapa kau? Menjauh!" teriakku. Ia melepaskan tangannya dari pipiku dan menatapku tajam.
"Aku adalah sisi jahatmu, kau tahu tidak? Kau terlalu lembut untuk tetap tinggal di dunia."
Aku yang tadi terengah-engah, mendadak tenang.
"Begitukah? Apa buktinya?"
"Kau kalah dengan air mata, kau selalu puaskan dirimu dengan berteriak dan menangis. Mana perlakuanmu? Kau hanya duduk dan berharap, kau tak bisa berjalan. Harusnya kau bisa merebut kebahagiaan mereka. Menghancurkan mereka, berdiri dan tertawa diatas mereka."
"Kau menghasutku?"
"Aku hanya menyuruhmu untuk menjatuhkan mereka apapun cara..." kata-katanya terhenti, ia memandang kearah perutnya yang baru saja kutusuk dengan sebilah belati tajam. Darahnya mengucuri gaun hitam usangnya. Aku menatap dengan senyum setan.
"Aku berhak menjalankan rencanaku tanpa ocehan besarmu yang bertele-tele."
Rabu, 20 Juni 2012
Kamis, 14 Juni 2012
Rindu Seribu
Aku ingin selembar sajak
tulisanmu. Aku ingin tau apa yang bisa kau tuliskan disitu. Mungkinkah bila kau
mengungkap cinta, rindu, atau kebencian? Oh tidak, itu aku. Aku yakin kau hanya
menggoreskan tinta penamu untuk, pekerjaanmu. Atau untuk seseorang yang kau
puja disana. Ah, sudahlah aku hanya memanjang cerita dan mengurangi citra. Aku
hanya takut semua itu nyata.
Kau tau, aku bisa menghabiskan satu rim kertas untuk menulis namamu dibalut dengan kata-kata romantis nan puitis. Tapi aku juga bisa memecahnya menjadi kata kebencian, saat aku selalu memandang bahwa kau tak akan pernah berada disebelahku. Aku hanya bosan merindu. Aku ingin bertatap muka denganmu untuk sekali, lalu kubawa lari semua senyummu yang menyayat hati.
Aku punya sebuah laci berisi
kekejaman. Tunggu, kuletakkan dimana ya. Kenapa semuanya hilang berganti
namamu? Aku yakin masih memilikinya. Biarlah, aku bisa memperbanyak selagi aku
marah.
Rindu itu sudah membatu, aku
sulit memecahnya kembali. Hanya bisa meleleh saat kutemui kamu saat ini. Aku
sudah tak bisa berkata banyak. Yang bisa aku tuliskan banyak kini hanya, aku
rindu kamu, tertulis hingga seribu.
Jumat, 01 Juni 2012
No Mention
Take it
back, shit
Every word
you’ve said to me
Nobody wants
your blood
Even the
greediest vampire in this world
You don’t
belong to be a good
You belong
to the demon
Live your
life inside of grudge
You don’t
have a faith at once
You, yeah
you!
You’ve been
cursed
You’ll die
with those sins on yourself
No more
forgiveness
You have no
god
Torture
relentless
All I wanted
to see is just
The blood
flows from your flesh
Hell for you
Just
prepared
Lord is your
fucking enemy
And I know
you don’t have strength
To fight
back, to defend, to pretend
That you are
the greatest
How could
you wake up without a will?
All you can
do is just dropped away
You are
loser, bastard
Mataku haya bisa menatap sedetik demi sedetik, coba terjaga
dan berusaha membuka mata selebar-lebarnya. Tak ada bedanya, semua terlihat
redup dan remang. Diantara lampu yang menyala benderang, akulah sebagian yang
bimbang. Aku merasa menyamar diatas gelap dengan suasana pengap. Kupejamkan
satu mataku, terkatup keduanya. Aku tertidur sejenak disamping lampu meja
belajar yang bersinar dengan terangnya.
“Nak, itukah kau?” sebuah suara membuatku membuka mata.
Putih sekitar. Aku dimana.
“Nak, ingatkah kau padaku?”
“Ibu…” aku berlari menghampiri wanita yang mengenakan gaun
putih nan anggun itu dengan berlari. Kau tahu, ini rasanya bagai mimpi diatas
mimpi. Dapat kurasakan sebuah kebahagiaan yang telah lama mati, terkubur
tertancap batu nisan yang kuat gagah tanpa goyah
.
.
“Aku bosan kehidupan dunia bu, aku ingin bersama ibu.”
Masihku memeluk erat tubuhnya yang hangat dan penuh kedamaian.
“Jangan kau coba mengucap hal itu, nak. Hidup itu indah bila
kau jalani dengan sepenuh hati.”
Bagai menit terakhir kupeluk wanita yang kupanggil ibu itu.
Ia menghilang diiringi sayup sayup suaranya yang merdu “Bangunlah nak, saatnya
kau mulai harimu.”
Dengan berat kubuka mataku. Sinar matahari merebak melalui
jendela dan tiraiku yang tak kututup rapat. Kicauan burung pun bersahut-sahutan
bagai sedang berdialog pantun kehidupan. Kubuka jendela kamarku perlahan, lalu
sapaan datang kepadaku bergantian.
Langganan:
Komentar (Atom)