Rabu, 20 Juni 2012

Ruangan Gelap

Kupandangi lampu yang berpijar di kamarku. Aku terbayang bila tanpa lampu ini, kamarku akan gelap. Kusipitkan mataku, semakin lama semakin silau.
Perlahan mataku terpejam, aku tertidur. Kubuka kembali mataku, aku ada disebuah ruangan yang gelap. Hanya ada bias cahaya dari ventilasi, aku bisa melihat sudut ruangan ini. Itu siapa? Ia berbalik. Ia adalah aku!

"K..Kau..." kataku terbata-bata.
Ia tak berkata apapun.

"Siapa kau?!" tanyaku setengah berteriak.

Ia tak menjawab. Aku hanya bisa terbelalak ketakutan. Ia bahkan lebih menyeramkan dari dewi kematian.
Melihatku ketakutan, ia menunduk. Tampak senyum jahat tersungging di bibirnya. Ia membelai pipiku.

"Siapa kau? Menjauh!" teriakku. Ia melepaskan tangannya dari pipiku dan menatapku tajam.

"Aku adalah sisi jahatmu, kau tahu tidak? Kau terlalu lembut untuk tetap tinggal di dunia."

Aku yang tadi terengah-engah, mendadak tenang.

"Begitukah? Apa buktinya?"

"Kau kalah dengan air mata, kau selalu puaskan dirimu dengan berteriak dan menangis. Mana perlakuanmu? Kau hanya duduk dan berharap, kau tak bisa berjalan. Harusnya kau bisa merebut kebahagiaan mereka. Menghancurkan mereka, berdiri dan tertawa diatas mereka."

"Kau menghasutku?"

"Aku hanya menyuruhmu untuk menjatuhkan mereka apapun cara..." kata-katanya terhenti, ia memandang kearah perutnya yang baru saja kutusuk dengan sebilah belati tajam. Darahnya mengucuri gaun hitam usangnya. Aku menatap dengan senyum setan.

"Aku berhak menjalankan rencanaku tanpa ocehan besarmu yang bertele-tele."

1 komentar:

  1. dari bahasa yang dipakai, aku bisa ngerasain atmosfernya. keren kak!

    BalasHapus