I saw you maybe once or twice in my dream.
Never got a chance to touch you or said hi to you.
But it's enough knowing you from afar. Like, if I ever get close then any problems will come. It's not a joke, it's true.
You know it yourself now. you push me away, knowing I'm the toxic you don't want to have in your life.
I hate, I lust, I love, I kill, I mock, I underestimate... sometimes yes.
But don't worry, I won't get close to you anymore. You want it, you get it, right?
You told me that I never ever listen to you or maybe rather interrupt you in any kind of conversation or discussion. Well, maybe I did but I didn't remember that.
Here's the thing, I did what I did and so did you. You helped me through my darkest life and I underestimated you. You push me away I get it. I'll go.
You ever predicted that I'm the one who will walk away. Yes, you name it you get it.
But tell you what. I am ENTJ. I may have some annoying traits that don't match you and I will continue to do that. So. Goodbye dear friend.
Octafian Arsanti
Aku menulis apa yang ingin aku tulis. if you don't like it. it doesn't matter :p
Minggu, 10 Maret 2019
Minggu, 07 April 2013
Sang Komposer
Ditengah alunan musik yang menggema ditelinga, aku hanya terpejam dan menikmatinya. Musik ini sangat klasik, kau tahu sebuah piano dengan not-not sulit yang seperti para komposer terdahulu tulis. Aku bisa merasakan irama hatiku ikut naik turun mengikuti nada-nada piano itu. sambil sedikit menggoyangkan kepalaku kekanan dan kekiri. Menghayati setiab baris nada yang dimainkan.
Namun semakin aku terlarut dan terlarut, musik ini bercerita dengan runtut. Bagaimana ia ditulis, dengan rasa apapun itu, namun kurasa ini ditengah tangis. Bahagia diawal dan semakin sendu kudengar. Sang komposer seakan menyampaikan semua maksudnya. Seakan aku bisa mendengar dan merasakan apa yang dirasakan sang komposer saat menuliskannya. Tetapi semua itu hanya sebuah misteri yang tak ada akhirnya, tak ada jawabnya. Hanya sebuah pertanyaan melayang dikepala siapa penulis sebenarnya dan apa maksudnya. Sayangnya tak bisa lagi ditemui penulisnya, sudah lama tiada. Sangat lama.
Namun semakin aku terlarut dan terlarut, musik ini bercerita dengan runtut. Bagaimana ia ditulis, dengan rasa apapun itu, namun kurasa ini ditengah tangis. Bahagia diawal dan semakin sendu kudengar. Sang komposer seakan menyampaikan semua maksudnya. Seakan aku bisa mendengar dan merasakan apa yang dirasakan sang komposer saat menuliskannya. Tetapi semua itu hanya sebuah misteri yang tak ada akhirnya, tak ada jawabnya. Hanya sebuah pertanyaan melayang dikepala siapa penulis sebenarnya dan apa maksudnya. Sayangnya tak bisa lagi ditemui penulisnya, sudah lama tiada. Sangat lama.
Back Again
Apa kabar dunia kata? Sungguh lama rasanya aku pergi menjauh. Sebenarnya hanya sedang asyik dengan hal-hal yang seperti biasanya. Buku, musik, film.
Banyak yang ingin kutuangkan kembali disini, semua dari kepala yang dirasa, atau kehidupan nyata. Atau sekedar tulisan seperti biasanya.
Semua tentag kebahagiaan, kesedihan, kerinduan, kebencian, ya mungkin hanya itu. yang lainnya hanya lelucon yang tidak begitu menarik.
Teruntuk rindu yang dulu sering datang, ia sudah lama pergi. Ia sedang menjumpa ranah baru. Entah ia sedang memeluk seseorang yang kini menemukan hal yang tak disampingnya, yah, seperti biasanya. Tidak ada kebencian diantara aku dan rindu. Hanya saja kita sepakat untuk tidak berbaur bersama dulu. Biarkan aku menikmati waktu yang kini aku buat untuk merencanakan hal-hal baru penghapus biru.
Bagi kebencian, aku masih suka dengannya. Semua kekuatan-kekuatan tak terduga berasal, mengubah suatu hal yang paling lembut dengan monster besar yang akan menghancurkan segalanya.
Glad to be back :)
Banyak yang ingin kutuangkan kembali disini, semua dari kepala yang dirasa, atau kehidupan nyata. Atau sekedar tulisan seperti biasanya.
Semua tentag kebahagiaan, kesedihan, kerinduan, kebencian, ya mungkin hanya itu. yang lainnya hanya lelucon yang tidak begitu menarik.
Teruntuk rindu yang dulu sering datang, ia sudah lama pergi. Ia sedang menjumpa ranah baru. Entah ia sedang memeluk seseorang yang kini menemukan hal yang tak disampingnya, yah, seperti biasanya. Tidak ada kebencian diantara aku dan rindu. Hanya saja kita sepakat untuk tidak berbaur bersama dulu. Biarkan aku menikmati waktu yang kini aku buat untuk merencanakan hal-hal baru penghapus biru.
Bagi kebencian, aku masih suka dengannya. Semua kekuatan-kekuatan tak terduga berasal, mengubah suatu hal yang paling lembut dengan monster besar yang akan menghancurkan segalanya.
Glad to be back :)
Sabtu, 19 Januari 2013
Whats Happening?
I only stared at nothing when everyone's tell me about their opinion
I'm imagine about something utopia
No one laugh at me
they just ask why
But I answer "I'm okay" then go and wave at them
I wanna bury my dreams
all of them
Seems like they are only a vision that won't come to life
A sound bothering me while I'm trying to sleep
But then gone
I wanna sleep all day
I wanna dream something new
I hope I'm inspired by something different
I wanna sing and scream out loud
The songs that tell about death
Violation, torture, sadness and everything
Then I'll make a new lyrics in my head
And run away to the rain just for crying and showing them
What I feel in every second I breath
I don't know about the time
I never know about era
I only know that I living now
I'm selfish and write it all
If I have a chance just for repent
I'll repent and I'll revenge
Minggu, 09 Desember 2012
Dimana Kita Seharusnya
Aku buta akan hati yang dirundung rindu.
Aku selalu ingat bagaimana masa lalu membawaku.
Mendaki sebuah kehidupan akan dunia baru yang kau tanam didalam hati dan pikiranku.
Kau tinggalkan sebuah tanda yang membuatku nyaman, kau tinggalkan lubang luka menganga lebar. Kau melupakan apa yang telah kau lakukan dan katakan padaku. Kutukan hidup menyumbul pada pintu dua sisi. Baik dan buruk.
Aku tak bisa bedakan jalan mana yang harus kutempuh dan pintu yang harus kulalui.
Koloni gagak menyeruak keluar dari pintu kiri dengan dua warna.
Apa tandanya? Aku lalui pintu kanan. Dimana aku bisa melihat aku dan kamu bersatu dalam cita dan cinta, rasa dan karsa, suka dan duka.
Disitulah seharusnya kita berada, sayang.
Kau lupa karena dunia menyulut emosi dan nafsumu.
Aku merindukanmu dan akan selalu.
Kau adalah milikku, begitupun sebaliknya
Aku selalu ingat bagaimana masa lalu membawaku.
Mendaki sebuah kehidupan akan dunia baru yang kau tanam didalam hati dan pikiranku.
Kau tinggalkan sebuah tanda yang membuatku nyaman, kau tinggalkan lubang luka menganga lebar. Kau melupakan apa yang telah kau lakukan dan katakan padaku. Kutukan hidup menyumbul pada pintu dua sisi. Baik dan buruk.
Aku tak bisa bedakan jalan mana yang harus kutempuh dan pintu yang harus kulalui.
Koloni gagak menyeruak keluar dari pintu kiri dengan dua warna.
Apa tandanya? Aku lalui pintu kanan. Dimana aku bisa melihat aku dan kamu bersatu dalam cita dan cinta, rasa dan karsa, suka dan duka.
Disitulah seharusnya kita berada, sayang.
Kau lupa karena dunia menyulut emosi dan nafsumu.
Aku merindukanmu dan akan selalu.
Kau adalah milikku, begitupun sebaliknya
Jumat, 16 November 2012
Kembali Merindu
Boleh aku menulis lagi?
Maksudku, menulis namamu?
Menggoreskan setiap huruf namamu dalam buku kesayanganku.
Lagi-lagi aku merindu. Begitu mudahnya ya?
Aku hanya ingin melihatmu dengan aura baru, aku tak ingin berkecimpung di masa lalu. Biarkan aku belajar sejarah eropa saja, mereka lebih menarik ketimbang harus mengingat kamu berjalan disetiap retakan masa lalu kelamku.
Beberapa malam kadang menjadi sebuah cerita.
Dimana kita bisa berjumpa, bertatap muka, berbicang tanpa ada pihak ketiga atau selebihnya.
Pesan-pesan yang kau tuliskan, kau gambarkan, semua cerita yang baru saja kau lewati, tumpah begitu saja.
Aku rindu itu, aku rindu semua perbincangan konyol kita.
Bukan bermaksud untuk kembali berharap menginginkanmu. Hanya untuk sekedar bertukar kabar. Sudah lama kita tak bertemu, kan?
Minggu, 04 November 2012
Dari Sekelompok Malam
Aku tak pernah disini sebelumnya. Aku
tak pernah ingat dimana sebelumnya aku berpijak. Di surgakah, atau di planet
lain. Yang aku ingat sekarang hanyalah dirimu yang secara tiba-tiba menghilang.
Setiap malam aku menyusuri jalan-jalan
ramai kota besar dan keheningan perbukitan. Hanya untuk mencari dimana kamu. Ada
naluri kuat yang mendorongku untuk mendatangi sebuah daerah yang aku tak bisa
gambarkan seperti apa. Aku tak peduli seberapa jauh aku melangkah, aku hanya
ingin bisa menemukanmu.
Waktu ikut berlari bersamaku, ia tak
peduli sekalipun aku berhenti. Hingga pada akhirnya aku berhenti karena lelah. Aku
menangis ingin menyerah. Apa ini hanya sia-sia? Aku tak mendapatkan apa yang
aku inginkan, namun aku tak bisa berbalik untuk kembali. Aku harus memulai
semuanya lagi. Dan hingga akhirnya aku melihatmu dari kejauhan. Aku bisa
melihatnya, ya itu kau yang kucari.
Seakan Adam dan Hawa yang bertemu
setelah dipisahkan ribuan mil jaraknya. Aku bisa merasakan kembali apa yang
hilang, aku bisa merasakan dirimu yang hampir menyerah menghapus jarak. Aku
bisa merasakan hangatnya pelukanmu pada dinginnya suasana.
Kemudian kubuka mataku perlahan dan
semua itu sirna. Hingga kini, aku hanya kotak kosong yang berisikan rindu dan
angan tentangmu.
Senin, 08 Oktober 2012
4 Tahun Lalu
Ini 4 tahun lalu. Kenapa aku disini? Pada 4 tahun
lalu, aku belum ada disini. Tidak buruk, semuanya tertata rapi. Aku ingin
melihat lagi apa yang terjadi 4 tahun lalu.
Ada yang berbeda dari jalan ini, lebih sepi
pengunjung. Tak seramai pada tahun yang harusnya kujalani sekarang.
Empat tahun lalu, pernah ada parade keliling dibawah
jalan layang ini. Aku ingat pernah melihatnya dengan teman-temanku. Dan disaat
itu, aku masih menggunakan seragam sekolah. Aku lupa dimana persisnya aku duduk
dan mengamati parade itu. Kujelajahi jalan itu dengan kedua temanku yang kubawa
ke masa ini. Aku menemukan kerumunan lalu duduk didekat mereka, mengorol dengan
temanku yang juga penasaran ada apa di tahun tersebut.
Ada yang memandangku aneh, ya itu aku dan temanku 4
tahun lalu. Aku paham yang mereka maksudkan. Mereka menyangka aku ini mirip
identik dengan diriku 4 tahun lalu. Mereka tak tahu aku dari 4 tahun yang akan
datang. Kupandangi anak 13 tahun yang tak lain adalah aku, ia tak melepas
pandangan itu. Sejenak tersirat bahwa ia ingin tahu lebih jauh siapa aku.
Parade selesai, aku berniat kembali ke tempat yang aku
tinggali di masa depan, agar aku bisa kembali ke waktu dimana aku berada
seharusnya. Tak lupa aku melempar senyum dan melambaikan tangan pada diriku yang berumur 13 tahun itu. Ia
membalasnya dan terus menatapku aneh hingga aku menghilang dari jalanan itu,
tahun itu.
Langganan:
Komentar (Atom)
