Mataku haya bisa menatap sedetik demi sedetik, coba terjaga
dan berusaha membuka mata selebar-lebarnya. Tak ada bedanya, semua terlihat
redup dan remang. Diantara lampu yang menyala benderang, akulah sebagian yang
bimbang. Aku merasa menyamar diatas gelap dengan suasana pengap. Kupejamkan
satu mataku, terkatup keduanya. Aku tertidur sejenak disamping lampu meja
belajar yang bersinar dengan terangnya.
“Nak, itukah kau?” sebuah suara membuatku membuka mata.
Putih sekitar. Aku dimana.
“Nak, ingatkah kau padaku?”
“Ibu…” aku berlari menghampiri wanita yang mengenakan gaun
putih nan anggun itu dengan berlari. Kau tahu, ini rasanya bagai mimpi diatas
mimpi. Dapat kurasakan sebuah kebahagiaan yang telah lama mati, terkubur
tertancap batu nisan yang kuat gagah tanpa goyah
.
.
“Aku bosan kehidupan dunia bu, aku ingin bersama ibu.”
Masihku memeluk erat tubuhnya yang hangat dan penuh kedamaian.
“Jangan kau coba mengucap hal itu, nak. Hidup itu indah bila
kau jalani dengan sepenuh hati.”
Bagai menit terakhir kupeluk wanita yang kupanggil ibu itu.
Ia menghilang diiringi sayup sayup suaranya yang merdu “Bangunlah nak, saatnya
kau mulai harimu.”
Dengan berat kubuka mataku. Sinar matahari merebak melalui
jendela dan tiraiku yang tak kututup rapat. Kicauan burung pun bersahut-sahutan
bagai sedang berdialog pantun kehidupan. Kubuka jendela kamarku perlahan, lalu
sapaan datang kepadaku bergantian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar