Jumat, 24 Agustus 2012

Aku Belum Dewasa


Kadang kita tak bisa menyalahkan emosi seseorang yang labil. Mungkin ia masih remaja, hormonnya belum stabil. Mungkin juga karena masa lalunya. Kau tak bisa menyalahkan masa lalu yang mengubahnya.
Untuk apa menuntut seseorang untuk dewasa? Dewasa itu bukanlah sebuah jalan keluar untuk menuntaskan sebuah masalah. Tetapi bagaimana kita menanggapinya dengan tenang, dan mencari jalan keluarnya tidak dengan gegabah. Bagaimana bila menuntut seseorang yang pada akhirnya ia tertekan untuk menjadi dewasa? Bisa jadi ia akan melakukan perbuatan menyimpang.
“Kamu itu diajarin jadi dewasa. Berpikiran dewasa.” Tak sadar kan bila itu adalah sebuah penuntutan secara halus, secara tak langsung? Ya menurutku begitu. Kedewasaan seseorang itu tumbuh karena keadaan yang membuatnya berfikir. Keadaan yang mengangkatnya dan saat itu ia memiliki beberapa sikap dan sifat yang lambat laun menjadi lebih baik.
Apa orang dewasa tidak suka bermain? Itulah sebuah pertanyaan yang tertanam di hati anak-anak sehingga banyak dari mereka yang takut menjadi dewasa. Banyak yang mencemooh “Kamu itu udah gede ih, masa mainan?” Lalu bagaimana mereka menjelaskan waktu luang mereka untuk jalan-jalan dan bermain-main di mall atau tempat-tempat yang menyediakan wahana untuk bermain? Itu egois sekali.
Menjadi tua itu wajar, menjadi dewasa itu wajar. Tetapi penuntutan itu termasuk daftar yang seharusnya dicoret. Memang koersi itu ada dan diajarkan, tetapi sepatutnya saja. Karena semua orang itu pasti akan tumbuh pada saatnya.

Selasa, 07 Agustus 2012

Sejarah


Banyak orang menginginkan untuk kembali ke masa lalu. Tapi bagaimana dengan mereka yang masa lalunya kelam? Seperti pernah disiksa, melihat pembunuhan apalagi pembunuhan atas keluarganya. Tapi banyak yang ingin kembali ke masa lalu untuk mengubah pilihan agar bisa hidup selayaknya di masa kini. Bagiku, itu tidak menantang. Bagaimana bila kembali ke masa, dimana sebuah sejarah sedang ditorehkan. Misalnya berada di tengah peperangan. Banyak yang menyanggah “Untuk apa? Untuk mati dalam perang dan tidak bisa merasakan kesenangan?”. Ataupun pandangan “Kau ingin dikenal diseluruh dunia, membiarkan orang mengunjungi makammu lalu meninggalkannya berlumut dan diramaikan kembali saat ada yang mengingatkan?”. Oke itu pemikiranku yang kejam. Tapi apa salahnya? Jika melihat langsung tragedi yang tidak mungkin di era yang pernah terjadi? Mungkin akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan, berbeda dengan pengalaman menaiki wahana Dufan. Baik, itu tidak termasuk.

Sekarang memang banyak yang sudah melupakan sejarah. Aku pun pernah demikian. Jika saja tidak ada sejarah, bagaimana kita bisa menceritakan apa yang sudah terbentuk didepan kita? Itu semua memiliki cerita kan? Memang tugas kita mengembangkannya menjadi lebih canggih tanpa melupakan jasa mereka-mereka para pelopornya.

 Aku mengagumi sejarah, terutama gedung yang memiliki sejarah. Pasti banyak cerita rumit nan tidak mungkin disana. Tapi kita tidak tahu kan kalau itu benar nyata atau tidaknya? Nah itu dia yang membuatku penasaran untuk kembali ke masa dimana sejarah terbentuk. Selain itu juga ada kebudayaan yang bersejarah. Yang memiliki nilai magis yang masih dipercaya dan kadang terbukti.

Apa salahnya mencari tahu sesuatu yang positif?