Malam itu adalah malam yang cukup ramai dirumahku, aku
berbincang dengan anggota keluargaku, ia sempat menyinggung tentang makhluk
pemangsa manusia. Aku tertarik untuk mendengarnya lebih jauh. Menurut kabar
yang beredar, sekelompok masyarakat hilang dimangsa oleh mereka. Dan kabar
terkini terungkap bahwa makhluk itu telah sampai di kota yang aku tempati
sekarang.
Aku menyiapkan baju untuk kabur, barangkali makhluk
itu sampai ke rumahku. Dan ternyata dugaaku benar, salah satu anggota keluargaku
berhasil dimakan oleh predator manusia itu. Aku bergegas mengganti pakaianku
dan kabur dengan perasaan takut yang amat sangat, aku belum pernah merasa takut
yang sedemikian.
Dani, adikku, menyuruhku untuk mengikuti dia. Ia
memiliki rencana untuk mengelabui sang predator. Namun ternyata aku salah
jalan. Sang predator hanya 3 langkah di belakangku. Akhirnya aku memilih untuk
melompat keluar pagar.
“Tidak! Jangan kesana!” teriak Dani.
Terlambat, aku
telah mendarat di jalan raya. Kakikku
berat untuk kugerakkan, aku sempat pasrah untuk mati ditangannya. Namun sedetik
kemudian, ada sesuatu yang menyentuh saku belakangku. Entah dari mana alat itu
berasal, aku segera menyentuh dan mengarahkannya ke makhluk buruk rupa itu. Mati,
ia mati di tanganku. Untuk sementara, aku berhasil membunuh satu dari mereka,
aku menang. Alat itu seperti gunting yang dua sisinya bergerigi seperti sisir. Tajam,
runcing. Makhluk itu tertancap dan aku berniat merapatkan gunting besar itu.
Aku menyeret gunting beserta predator itu dan menunjukkannya
pada keluargaku yang masih hidup. Mereka terperangah dan terbelalak menatapnya
seakan tak percaya. Sambil terengah-engah dan memasang wajah ’aku-menang-dasar-kau-monster-sialan’
aku dengan lantang berkata. “Ini, dia sudah mati.”
Aku berlalu meninggalkan keluargaku yang masih terpaku
menatap apa yang aku dapat. Kemudian aku membersihkan diri untuk kerumah
sepupuku yang rumahnya tak jauh dari sini.
Mengendarai motor yang seadanya, hari kian larut. Warga
berbondong-bondong menjauh dari kota. Sebagian terlelap. Macet. Aku harus
menukarkan senjata yang aku bawa pada sepupuku. Tak lama kemudian aku sampai.
“Mana… Senjataku yang panjang itu.. Hah hah.. aku
membutuhkannya.” kataku menyerahkan jenis Combat Shotgun sembari mengatur
nafas.
“Sebentar..” lalu ia menyerahkan senjata yang aku
maksud. Ada rasa tenang setelah aku memegangnya.
“Masuklah! Makhluk itu menuju kearah sini!”
“Tidak mau! Aku ikut kau!” bantahku sambil menyalaka
motor. Motor sialan, batinku, tak mau menyala ketika aku sangat membutuhkannya
untuk kabur dari sini. “Aku naik motor bersamamu!”
“Tidak usah, kau cepat masuk, jangan sampai mereka
memangsamu! Aku segera kembali!”
Akhirnya aku menurut, aku berlari menuju rumahnya dan
mengunci pintunya. Aku merunduk disudut kamarnya sambil menangis ketakutan
memeluk senjataku.
Ditengah isak tangisku, aku mendengar erangan monster.
Mereka berjalan melewati rumah sepupuku, aku penasaran dan mengintipnya dari
jendela ruang tamu. Untungnya keadaan rumah ini sedang gelap, jadi aku tak
perlu ragu untuk ketahuan. Oh tuhan, mereka terlihat sangat lapar. Dari mana
asal mereka?
Salah satu dari mereka melirik kearah rumah sepupuku. Aku
harus keluar! Tanpa membuat suara aku berlari mengarah sebuah tempat yang
memiliki tangga. Banyak yang mengatakan bahwa tempat itu adalah tempat yang
paling ditakuti makhluk apapun termasuk manusia. Aku tidak peduli. Aku duduk
dan mengatur nafas yang kacau.
Setelah tenang, aku memandang langit yang tak biasanya.
Bulan terlihat sangat besar dan penuh. Aku tak bisa melepas pandanganku. Aku
terpaku pada langit yang ‘sebenarnya indah’ malam ini. Namun samar-samar aku
melihat bayangan bayi berkulit coklat 2 kali besar bulan melintas di langit. Suara
tawanya yang terkikik pun terdengar walau kecil. Setelah itu balok, segitiga. Ada
apa ini? Malam apa ini?!
Aku merunduk memeluk kakiku. Aku tak ingin lagi
melihat langit. Kemudian kota terdengar tenang. Aku melirik arlojiku yang
menunjuk pukul dua pagi. Aku menuruni dua anak tangga.
“Tunggu!” terdengar sebuah suara yang menghentikanku. Aku
mengambil senjataku dan memasang posisi siaga.
“Kau disitu saja, dan jangan turun sebelum matahari
terbit.” itu sepupuku. Ia baik-baik saja. Aku mengagguk penuh percaya.
Pukul 05.30, matahari terbit. Perlahan-lahan aku
turun. Aku yakin aku tak apa-apa. Kota sudah mulai terlihat tenang. Aku
berjalan keluar dari tempat yang ditakuti semua makhluk. Selangkah demi
selangkah, akhirnya aku memantapkan diri untuk kembali berlari ke tengah kota. Ternyata
kota tersebut telah hancur. Hanya beberapa yang selamat, mereka tampak keluar
rumah dengan ragu-ragu untuk mencari sinar matahari. Wajah mereka masih
menunjukkan mimik ketakutan yang amat sangat.
Aku bernafas lega dicampur sedih. Kota ini harus
ditutup.
Tak lama setelah kejadian tersebut, kota tempat tinggalku
ditutup selama 3 tahun dan kembali dibangun setelah seseorang warga
mengunjunginya dan menggagaskan kembali tempat itu sebagai kota yang layak
dihuni. Dan keberadaan predator pemangsa manusa itu sudah tak lagi diketahui,
polisi negara telah menyebar pasukan disekitar kota namun nihil, tak ada bukti
jejak kepergian mereka. Tubuh predator yang tertancap di gunting raksasa yang
kutemukan itu tak membantu dalam pencarian keberadaan mereka.
Kemanakah mereka? Dari mana asal mereka? Apakah mereka
utusan dari dimensi lain intuk menghancurkan kota ini? Semua itu hanya menjadi
pertanyaan yang mengawang bagi warga kota.