Kamis, 19 Juli 2012

Predator Pemangsa Manusia


Malam itu adalah malam yang cukup ramai dirumahku, aku berbincang dengan anggota keluargaku, ia sempat menyinggung tentang makhluk pemangsa manusia. Aku tertarik untuk mendengarnya lebih jauh. Menurut kabar yang beredar, sekelompok masyarakat hilang dimangsa oleh mereka. Dan kabar terkini terungkap bahwa makhluk itu telah sampai di kota yang aku tempati sekarang.
Aku menyiapkan baju untuk kabur, barangkali makhluk itu sampai ke rumahku. Dan ternyata dugaaku benar, salah satu anggota keluargaku berhasil dimakan oleh predator manusia itu. Aku bergegas mengganti pakaianku dan kabur dengan perasaan takut yang amat sangat, aku belum pernah merasa takut yang sedemikian.
Dani, adikku, menyuruhku untuk mengikuti dia. Ia memiliki rencana untuk mengelabui sang predator. Namun ternyata aku salah jalan. Sang predator hanya 3 langkah di belakangku. Akhirnya aku memilih untuk melompat keluar pagar.

“Tidak! Jangan kesana!” teriak Dani.

Terlambat, aku telah mendarat di  jalan raya. Kakikku berat untuk kugerakkan, aku sempat pasrah untuk mati ditangannya. Namun sedetik kemudian, ada sesuatu yang menyentuh saku belakangku. Entah dari mana alat itu berasal, aku segera menyentuh dan mengarahkannya ke makhluk buruk rupa itu. Mati, ia mati di tanganku. Untuk sementara, aku berhasil membunuh satu dari mereka, aku menang. Alat itu seperti gunting yang dua sisinya bergerigi seperti sisir. Tajam, runcing. Makhluk itu tertancap dan aku berniat merapatkan gunting besar itu.

Aku menyeret gunting beserta predator itu dan menunjukkannya pada keluargaku yang masih hidup. Mereka terperangah dan terbelalak menatapnya seakan tak percaya. Sambil terengah-engah dan memasang wajah ’aku-menang-dasar-kau-monster-sialan’ aku dengan lantang berkata. “Ini, dia sudah mati.”

Aku berlalu meninggalkan keluargaku yang masih terpaku menatap apa yang aku dapat. Kemudian aku membersihkan diri untuk kerumah sepupuku yang rumahnya tak jauh dari sini.

Mengendarai motor yang seadanya, hari kian larut. Warga berbondong-bondong menjauh dari kota. Sebagian terlelap. Macet. Aku harus menukarkan senjata yang aku bawa pada sepupuku. Tak lama kemudian aku sampai.

“Mana… Senjataku yang panjang itu.. Hah hah.. aku membutuhkannya.” kataku menyerahkan jenis Combat Shotgun sembari mengatur nafas.

“Sebentar..” lalu ia menyerahkan senjata yang aku maksud. Ada rasa tenang setelah aku memegangnya.

“Masuklah! Makhluk itu menuju kearah sini!”

“Tidak mau! Aku ikut kau!” bantahku sambil menyalaka motor. Motor sialan, batinku, tak mau menyala ketika aku sangat membutuhkannya untuk kabur dari sini. “Aku naik motor bersamamu!”

“Tidak usah, kau cepat masuk, jangan sampai mereka memangsamu! Aku segera kembali!”

Akhirnya aku menurut, aku berlari menuju rumahnya dan mengunci pintunya. Aku merunduk disudut kamarnya sambil menangis ketakutan memeluk senjataku.

Ditengah isak tangisku, aku mendengar erangan monster. Mereka berjalan melewati rumah sepupuku, aku penasaran dan mengintipnya dari jendela ruang tamu. Untungnya keadaan rumah ini sedang gelap, jadi aku tak perlu ragu untuk ketahuan. Oh tuhan, mereka terlihat sangat lapar. Dari mana asal mereka?

Salah satu dari mereka melirik kearah rumah sepupuku. Aku harus keluar! Tanpa membuat suara aku berlari mengarah sebuah tempat yang memiliki tangga. Banyak yang mengatakan bahwa tempat itu adalah tempat yang paling ditakuti makhluk apapun termasuk manusia. Aku tidak peduli. Aku duduk dan mengatur nafas yang kacau.

Setelah tenang, aku memandang langit yang tak biasanya. Bulan terlihat sangat besar dan penuh. Aku tak bisa melepas pandanganku. Aku terpaku pada langit yang ‘sebenarnya indah’ malam ini. Namun samar-samar aku melihat bayangan bayi berkulit coklat 2 kali besar bulan melintas di langit. Suara tawanya yang terkikik pun terdengar walau kecil. Setelah itu balok, segitiga. Ada apa ini? Malam apa ini?!

Aku merunduk memeluk kakiku. Aku tak ingin lagi melihat langit. Kemudian kota terdengar tenang. Aku melirik arlojiku yang menunjuk pukul dua pagi. Aku menuruni dua anak tangga.

“Tunggu!” terdengar sebuah suara yang menghentikanku. Aku mengambil senjataku dan memasang posisi siaga.

“Kau disitu saja, dan jangan turun sebelum matahari terbit.” itu sepupuku. Ia baik-baik saja. Aku mengagguk penuh percaya.

Pukul 05.30, matahari terbit. Perlahan-lahan aku turun. Aku yakin aku tak apa-apa. Kota sudah mulai terlihat tenang. Aku berjalan keluar dari tempat yang ditakuti semua makhluk. Selangkah demi selangkah, akhirnya aku memantapkan diri untuk kembali berlari ke tengah kota. Ternyata kota tersebut telah hancur. Hanya beberapa yang selamat, mereka tampak keluar rumah dengan ragu-ragu untuk mencari sinar matahari. Wajah mereka masih menunjukkan mimik ketakutan yang amat sangat.
Aku bernafas lega dicampur sedih. Kota ini harus ditutup.

Tak lama setelah kejadian tersebut, kota tempat tinggalku ditutup selama 3 tahun dan kembali dibangun setelah seseorang warga mengunjunginya dan menggagaskan kembali tempat itu sebagai kota yang layak dihuni. Dan keberadaan predator pemangsa manusa itu sudah tak lagi diketahui, polisi negara telah menyebar pasukan disekitar kota namun nihil, tak ada bukti jejak kepergian mereka. Tubuh predator yang tertancap di gunting raksasa yang kutemukan itu tak membantu dalam pencarian keberadaan mereka.
Kemanakah mereka? Dari mana asal mereka? Apakah mereka utusan dari dimensi lain intuk menghancurkan kota ini? Semua itu hanya menjadi pertanyaan yang mengawang bagi warga kota.

Sabtu, 14 Juli 2012

I Hate This

Aku berkata benci, aku menjabarkan semuanya. Aku menumpahkannya seakan-akan aku yang berhak memarahi semuanya. Ini emosi, aku labil. Umurku masih menghadapi masa sulit dalam perihal emosi. Aku Seringkali cemburu akan hal yang kurang wajar ataupun sepele. Bagaimana caranya menghancurkan sifat burukku yang kian hari kian membatu?
Kata-kata saja tak cukup untukku. Aku terlalu tertutup untuk melampiaskan ke seseorang walaupun ia merayuku dan berusaha untuk membantuku

Sebagian Kecil Dunia, Menurutku

Kadang dunia ini tidak adil. Ketika aku sedang benar-benar membutuhkan sesuatu, aku tak bisa mendapatkannya hingga aku mati-matian berusaha. Aku sempat berpikir, keberuntungan seringkali merebut segalanya. Mungkin sempit, namun itulah kenyataanya.
Aku banyak melihat seseorang mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan mereka mau. Seperti apa usaha mereka, aku melihat itu. Aku bahkan tak percaya yang mereka, sebagian kecil, lakukan adalah hal yang lebih mudah dari yang aku selama ini lakukan. Apa mereka curang? Mereka meminta bantuan kepada cenayang? Bukan maksud menghina, aku hanya sedikit iri.
Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hampir putus asa mengejar yang aku inginkan. Seakan yang aku impi-impikan berlari menjauhiku, mempermainkanku, dan membuat aku meninggalkan mereka hingga mereka tertawa sekeras-kerasnya.
Jikalau aku harus curang, salahkah aku? Maksudku, tak sedikit orang berbuat curang demi apa yang mereka mau, kan?