Senin, 24 September 2012

Red and Blue

First Year


Masa SMA adalah masa yang paling unik lanjutan SMP. Banyak dari mereka yang lulusan SMA aja masih ingin kembali lagi. Mereka ketagihan? Ah memang begitu takdirnya.
Disebuah SMA swasta elit di Jakarta baru saja memasuki tahun ajaran baru. Masa orientasi yang biasanya diadakan memang memiliki kesan sendiri bagi yang mengalaminya.
Terlihat seorang cewek berumur 14 tahun mengenakan seragam biru putih dengan rambut yang diikat sebanyak tujuh belas ikatan dan mengenakan sepatu yang berbeda warna, berjalan agak gugup di koridor sekolah. Ia mencari-cari dimana kelasnya. Ditapakinya anak tangga satu persatu dan, ia menabrak seseorang.
“So.. sori, gue gak sengaja.”
“Maaf juga,” cewek itu memberanikan diri untuk bertanya. “Anyway, lu kelas berapa?”
“Gue sepuluh tiga, tapi gue belom ketemu kelasnya. Lu sendiri?”
“Eh sama, cari bareng mau gak?”
“Boleh deh. Oh iya, gue Audrey.”
“Gue Alexa, salam kenal.” Mereka bersalaman dan saling melempar senyum. Setega itukah? Senyum dilempar-lempar?
Mereka menemukan kelasnya yang ternyata ada di lantai empat. Seharusnya mereka bisa menggunakan lift untuk menuju kesana tetapi sayang, liftnya sedang dalam perbaikan. Setelah berkenalan dengan beberapa teman sekelasnya, mereka pun akhirnya duduk sebangku. Masa orientasi dimulai.
Tetapi banyak yang mengeluh jika masa orientasi tahun ini benar-benar membosankan. Kebanyakan dari mereka memilih tidur di kelas saat yang lainnnya disuruh mengumpulkan tanda-tangan pengurus OSIS.
“Heh, lu gak ikut yang lain?” Alexa menyenggol Audrey yang tertidur dengan mulut terbuka diatas meja. Audrey kaget dan duduk tegang terbelalak. Alexa memasang wajah datar.
“Heleh ngapain? Ngantuk, gak guna juga. Hoaaam…” jawabnya setengah sadar lalu kembali meletakkan kepalanya diatas meja.
“Kalo gak ngumpulin itu hukumannya disuruh jadi petugas upacara waktu udah masuk nanti.”
“Heh? Gapapa asal jangan disuruh sedot wc yang mampet aja.”
Kenyataannya, siswa baru tahun ini memang tidak tertarik dengan masa orientasi yang diadakan disekolah tersebut. Pengurus OSIS yang sudah siap untuk terkenal dan dimintai tanda-tangannya hanya bisa ngedumel kesel karena cuma sedikit yang minta tanda tangan.
“Karena sampai hari ketiga hanya sebagian kecil yang mengumpulkan tanda tangan pengurus OSIS, hukuman dihilangkan.” umum sang ketua OSIS pada saat apel penutup masa orientasi.
“Kenapa kak?”
“Kebanyakan ya dek, masa petugasnya banyak trus yang jadi peserta upacaranya cuma sekelas?”
Kelas sepuluh tiga yang seluruhnya tidak mengumpulkan itu hanya tertawa dan mencibir sang ketua OSIS. Hampir saja ada kontroversi antara sepuluh tiga dan pengurus OSIS, mereka menahannya karena ada tatapan tajam dari beberapa guru-guru yang killer. Dan mereka tahu jikalau sampai ada keributan, toilet sekolah benar-benar akan bersih seperti baru. Siapa lagi kalau bukan murid yang bersalah yang dipaksa untuk membersihkannya.
Penutupan masa orientasi dilakukan seperti pada umumnya, yaitu demo ekstra kurikuler. Banyak macam ekstra kurikuler yang mereka bentuk. Ada futsal, band, parkour, tae kwon do, sampai rugby yang american football ekstrem itu. Alexa bersemangat sekali menonton demo yang ditunjukan dari masing-masing ekstra kurikuler. Audrey hanya memelototi kucing yang sedari tadi menggaruk-garuk pasir didekat tempat parkir.


 Putih abu-abu. Dengan hati yang berbunga, Alexa melangkahkan kakinya ke depan gang untuk menaiki sebuah angkot. Seharusnya ia diantarkan ayahnya, namun karena ayahnya sedang sibuk keluar kota, maka ia harus merelakan duit jajannya buat bayar ongkos angkot.
Ia menaiki angkot yang bernomor sama seperti nomor terakhir ponselnya. Si sopir angkot langsung mengemudi dengan liar seperti Knight Bus di Harry Potter. Tetapi mereka tidak melewati dua bus didepannya.
Sesampainya di gang menuju sekolahnya, Alexa turun dengan kaki yang gemetaran. Ia mengutuk sopir itu. Dengan muka yang kusut ia berjalan menuju sekolah. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam membunyikan klakson kearahnya. Si pemilik menurunkan kaca, itu ternyata Audrey dengan ayahnya. Alexa langsung masuk ke mobil dan menuju sekolah bersama-sama.
“Kusut amet muke lu, kenapa dah?”
“Gue naik angkot yang sopirnya penghuni rumah sakit jiwa. Gile, parah banget nyetirnya kayak punya nyawa sepuluh. Dikata Crash Bandicoot kali yak.”
“Udah lain kali jangan naik yang itu.”

Semester dua telah berakhir. Sebagai penutupan dan refreshing para guru dan murid. Sekolah mengadakan classmeeting. Semua murid diajak untuk mengikuti pertandingan-pertandingan yang diadakan oleh sekolah. Alexa mengikuti lomba melukis pemandangan yang juara satu bisa disabetnya. Audrey mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dan menempati tempat kedua. Selama empat hari berturut-turut mereka dihibur oleh berbagai macam pertandingan yang diadakan.
Hari ini hari kedua pelaksanaan classmeeting. Dengan wajah yang sama-sama ceria, Alexa dan Audrey bertemu di depan kelas dua belas Sains yang berada di lantai dua.
“Gue juara satu lukis!”
“Wah keren! Congrats ya!”
“Makasih ya, lu gimana pidatonya?”
“Juara dua, hehehe”
“Lumayan kali, keren malah. Masuk tiga besar.”
“Yang penting naik podium gue—“ Audrey memandang dua tim yang sedang bertanding futsal dari lantai dua. “Eh itu kelasnya sepupu gue, si Andrew.”
Mereka langsung menonton pertandingan futsal itu dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Lalu Bung Karno pun kembali terdiam.
Audrey terfokus pada salah seorang pemain futsal yang tak lain satu tim dari sepupunya. Matanya menyipit, lalu terbelalak lebar. “Ih itu ganteng! Yang nomor punggungnya sepuluh!” senggolnya pada Alexa.
“Iya eh ganteng.”
“Huwaaa ganteng bangeeet!” Audrey memandangi cowok itu dengan mata berbinar dan aura yang mengkilat-kilat.
“Kok kayaknya gue pernah tau ya? Anak kelas sebelah mungkin? Itu juga ganteng.”
“Ih ini sepuluh lima, yang disepuluh empat itu Josh bukan? Yang anak rugby itu?”
“Nahloh muka mereka samaan gimana itu?”
“Itu tandanya kembar, odooong—“ mereka tertawa dan tersadar bahwa pertandingan telah berakhir dan Audrey berinisiatif untuk menemui sepupunya yang akrab dengannya itu. “Ayuk samperin Andrew!” Audrey menarik tangan Alexa yang sedang menopang dagunya, benturan tembok pun tak terelakan lagi. Alexa berlari mengejar Audrey sambil mengusap keningnya.
Sesampainya dibawah, Andrew senyum kearah Audrey yang berjalan tak lain bila kearahnya.
“Congrats, Audrey! Jadi juara dua pidato bahasa Inggris.” Audrey mengangguk senang. Si nomor punggung sepuluh yang tadi disinggungnya, ikut melempar senyum kearah Audrey. Senyumnya yang kelewat menawan itu ternyata telah menghentikan detak jantung Audrey. Audrey pun pingsan di kerumunan anak kelas sepuluh lima. Warga sekolah yang melihatnya hanya bengong.

Pembagian raport adalah hal yang menegangkan bagi setiap murid. Disitu kita bisa mengalami menerima nilai tinggi, rendah, ocehan orang tua, sampai ocehan guru yang menagih dana administrasi sekolah bagi murid yang belum melunasinya. Tidak bagi Audrey dan Alexa, mereka bisa puas dengan hasil dua semester terakhir yang mereka tempuh di kelas sepuluh.
Makan malam bersama adalah tradisi sekolah ini setelah penerimaan raport. Sehari setelah itu, para murid diundang untuk datang ke aula sekolah pada pukul 18.00 untuk mengadakan makan malam bersama. Wajah para murid yang datang sangat antusias, karena ini terakhir kalinya mereka bertemu dengan kelas masing-masing sebelum diacak lagi pada tahun kedua nanti.
Kepala sekolah membuka acara makan malam dengan sambutan diiringi tepuk tangan meriah. Lalu para murid pun dipersilahkan untuk makan.
“Makan gratis tiap taunnya…” celetuk seorang murid sepuluh tiga. Entah sebenarnya kelas itu penuh dengan anak-anak yang aneh, malas tetapi mereka pintar.
Audrey asyik twitteran sambil menyendok makanannya, ia hanya memakan separuh dari piringnya. Segelas sirup diteguknya habis, lalu ia bersendawa keras-keras. Spontan satu kelas tertawa mendengarnya. Berbeda dengan Alexa yang lahap menghabiskan makanan hingga piringnya bersih, namun sayang, ia cegukan.
Alexa berniat mengambil segelas sirup yang berdampingan dengan gelas milik Diva, anak kelas sepuluh dua yang terkenal dengan dandanannya yang ingin glamor seperti putri cantik disekolah. Naas, Alexa menyenggol gelas milik Diva dan tumpahlah seisi gelas itu, membanjiri rok terbaru milik Diva. Dengan wajah yang sangat marah, Diva berdiri menghadap Alexa.
“Kenapa lu?”
“Liat ini rok gue kenapa?!”
“Basah, hehe sori ye, sori banget.”
Diva mengambil gelas milik teman disebelahnya dan menuangkannya ke kepala Alexa. Alexa berdiri dan menarik kerah Diva. Wajah para murid sepuluh dua dan tiga tertuju pada dua cewek yang saling bertatapan itu. Teriakan-teriakan dan pingsan yang tak penting pun berdatangan. Audrey menatap temannya itu tengan tatapan “Wau!”
Diva kembali melumuri baju Alexa dengan mayonaise. Alexa yang tak terima, mendorong Diva hingga terjatuh dan meraih sebotol saus sambal.
“Nikmati keramasmu, Nona Cantik.” Alexa menuangkan saus sambal dan mengacak-acak rambut Diva. Setelah puas, Diva terbangun dan segera keluar ruangan sembari menangis bombay diikuti beberapa temannya yang menatap sinis pada Alexa, namun Alexa hanya tertawa mencibir. Kelas sepuluh tiga bersorak ceria. Guru-guru tak memperhatikan apa yang terjadi karena sedang asyik menikmati makanannya, soalnya menu makanan tahun ini lebih enak dari tahun kemarin.
“Buset, lu apain tuh bocah ampe nangis?”
“Keramas doang”
“Cuma pake shampo kok!” kata salah seorang murid sepuluh tiga sembari menunjukkan sebotol saus sambal dengan merk yang disensor.