Aku ingin selembar sajak
tulisanmu. Aku ingin tau apa yang bisa kau tuliskan disitu. Mungkinkah bila kau
mengungkap cinta, rindu, atau kebencian? Oh tidak, itu aku. Aku yakin kau hanya
menggoreskan tinta penamu untuk, pekerjaanmu. Atau untuk seseorang yang kau
puja disana. Ah, sudahlah aku hanya memanjang cerita dan mengurangi citra. Aku
hanya takut semua itu nyata.
Kau tau, aku bisa menghabiskan satu rim kertas untuk menulis namamu dibalut dengan kata-kata romantis nan puitis. Tapi aku juga bisa memecahnya menjadi kata kebencian, saat aku selalu memandang bahwa kau tak akan pernah berada disebelahku. Aku hanya bosan merindu. Aku ingin bertatap muka denganmu untuk sekali, lalu kubawa lari semua senyummu yang menyayat hati.
Aku punya sebuah laci berisi
kekejaman. Tunggu, kuletakkan dimana ya. Kenapa semuanya hilang berganti
namamu? Aku yakin masih memilikinya. Biarlah, aku bisa memperbanyak selagi aku
marah.
Rindu itu sudah membatu, aku
sulit memecahnya kembali. Hanya bisa meleleh saat kutemui kamu saat ini. Aku
sudah tak bisa berkata banyak. Yang bisa aku tuliskan banyak kini hanya, aku
rindu kamu, tertulis hingga seribu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar