Kamis, 14 Juni 2012

Rindu Seribu


Aku ingin selembar sajak tulisanmu. Aku ingin tau apa yang bisa kau tuliskan disitu. Mungkinkah bila kau mengungkap cinta, rindu, atau kebencian? Oh tidak, itu aku. Aku yakin kau hanya menggoreskan tinta penamu untuk, pekerjaanmu. Atau untuk seseorang yang kau puja disana. Ah, sudahlah aku hanya memanjang cerita dan mengurangi citra. Aku hanya takut semua itu nyata.

Kau tau, aku bisa menghabiskan satu rim kertas untuk menulis namamu dibalut dengan kata-kata romantis nan puitis. Tapi aku juga bisa memecahnya menjadi kata kebencian, saat aku selalu memandang bahwa kau tak akan pernah berada disebelahku. Aku hanya bosan merindu. Aku ingin bertatap muka denganmu untuk sekali, lalu kubawa lari semua senyummu yang menyayat hati.
Aku punya sebuah laci berisi kekejaman. Tunggu, kuletakkan dimana ya. Kenapa semuanya hilang berganti namamu? Aku yakin masih memilikinya. Biarlah, aku bisa memperbanyak selagi aku marah.
Rindu itu sudah membatu, aku sulit memecahnya kembali. Hanya bisa meleleh saat kutemui kamu saat ini. Aku sudah tak bisa berkata banyak. Yang bisa aku tuliskan banyak kini hanya, aku rindu kamu, tertulis hingga seribu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar