Naik kedalam bus
dengan perasaan sangat bahagia. Sampai di Kertosono kepanasan langsung
ngamuk-ngamuk. Dapat salah satu bus kearah Solo yang ber-ac, lalu kembali
ceria. Sayangnya ada yang bikin saya risih di bus itu. Seorang bapak yang
kira-kira berumur 45 keatas itu mengalami sesak nafas dan batuk-batuk. Akhirnya
saya cuma bisa tidur sejam.
Sampai di Ngawi, saya
benar benar lapar. Akhirnya turun di restauran untuk makan sejenak. Ini
termasuk akomodasi dari membayar Rp. 53.000,- kepada sang kondektur tadi. Tanpa
basa basi, saya memilih nasi gulai kambing. Saya lahap hingga tak bersisa di
mangkuk. Namun apa yang terjadi, saya menyesal karena kekenyangan. Sulit
sendawa dalam waktu dekat. Baiklah, saya tidak punya obat anti mabuk dikantung.
Kembali menaiki bus sambil memegangi perut yang kekenyangan.
Awalnya bus berjalan perlahan, namun demi penumpag agar cepat sampai di tujuan,
bus kembali ngebut. Penumpang yang duduk disebelah saya tidak bisa berhenti
batuk. Mama menyarankan sebuah obat kepada bapak itu yang akhirnya obat itu
diminumnya.
Bus berjalan liar bagai macan mengejar magsanya yang berlari
dengan lihai. Kecepatan tinggi diatas jalan yang berkelok-kelok bagai pembalap
formula one yang sedang mempertahankan posisi pertama dan mendapat overlap.
Perut serasa dikocok-kocok. Bergejolak seakan lava yang ingin dikeluarkan oleh gunung
berapi. Kepala berputar-putar. Oh, saya mabuk.
Sesampainya di terminal Tirtonadi di Solo, saya tidak bisa
berkata macam-macam. Segera masuk ke ruang tunggu penumpang. Tanpa basa-basi,
saya letakkan tas yang saya bawa kesalah satu kursi yang disediakan disitu lalu
berlari ke toilet. Yak, saya keluarkan semua makanan yang saya isi ke perut
saya tadi. Istilahnya muntahlah-_-. Lalu
saya dan Mama dijemput pleh saudara yang tinggal di dekat kantor bupati
Sukoharjo. Saya menginap dirumahnya semalam. Ini mungkin kali pertama saya
muntah selama perjalanan. Kapok deh, mending kalau mau naik bus nggak usah
makan sampai kenyang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar