Sendiri
lagi. Melihat kearah langit yang mendung. Apa harus sedih yang kurasa saat tak
ada seorangpun yang menemaniku?
Butir
air hujan mulai jatuh. Perlahan namun pasti, diiringi suara petir, hujan mulai
deras. Dengan tatapan kosong, aku memandang air yang terjatuh dari langit itu.
Dingin,
sama dengan dinginnya hati yang sekarang kurasakan. Apa yang membuatku merasa
dingin? Apa aku teringat masa lalu pahitku yang seakan turun bersama hujan?
Berdiri
terpaku memandang hujan. Itu saja yang dapat kulakukan kini.
Aku
tak mau hujan. Aku benci hujan. Tetapi hujan adalah satu-satunya hal yang ada
saat aku tenggelam dalam rumitnya hidup dan buramnya hatiku.
Namun
aku merasa bahwa kau hadir kembali mengingatkan kenangan buruk yang telah lalu.
Itu sangat menusuk.
Aku
ingat saat yang bisa aku lakukan hanya menangis dan menangis. Kau turun dengan
derasnya seakan berkata padaku “Menangislah selagi kau bisa, aku akan
menemanimu kapan saja”.
Apa
aku harus berterima kasih padamu, Hujan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar