Kamis, 24 Mei 2012

Dear Rain


Sendiri lagi. Melihat kearah langit yang mendung. Apa harus sedih yang kurasa saat tak ada seorangpun yang menemaniku?
Butir air hujan mulai jatuh. Perlahan namun pasti, diiringi suara petir, hujan mulai deras. Dengan tatapan kosong, aku memandang air yang terjatuh dari langit itu.
Dingin, sama dengan dinginnya hati yang sekarang kurasakan. Apa yang membuatku merasa dingin? Apa aku teringat masa lalu pahitku yang seakan turun bersama hujan?
Berdiri terpaku memandang hujan. Itu saja yang dapat kulakukan kini.
Aku tak mau hujan. Aku benci hujan. Tetapi hujan adalah satu-satunya hal yang ada saat aku tenggelam dalam rumitnya hidup dan buramnya hatiku.
Namun aku merasa bahwa kau hadir kembali mengingatkan kenangan buruk yang telah lalu. Itu sangat menusuk.
Aku ingat saat yang bisa aku lakukan hanya menangis dan menangis. Kau turun dengan derasnya seakan berkata padaku “Menangislah selagi kau bisa, aku akan menemanimu kapan saja”.
Apa aku harus berterima kasih padamu, Hujan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar