Ketika kebencian merasuk dalam dirimu, mungkin ada beberapa
yang mengungkapkan dengan cara ini. Tuliskan semua dengan tawa licik. Tumpahkan
semua dengan rasa bahagia dan kau akan puas. Tetapi, balas dendam adalah hal
terindah. Oh, maaf aku jahat. Aku hanya menulis loh.
Masih sempurna mengeja rindu? Aku lupa bagaimana kau
merayuku. Kata-kata itu terlontar dari bibir manismu. Sungguh menawan aktingmu,
layaknya seorang pangeran yang dapat memikat seluruh putri kerajaan di negeri
ini. Kepuasan pribadi yang kau rasakan, bagaimana dengan mereka yang benar
menyayangimu dengan sepenuh hati? Kurasa, kau harus bertanggung jawab pada
hati-hati yang tersakiti diluar sana. Aku, memang satu dari mereka. Namun
terima kasih, kau terlalu payah untuk mempertahankan kepercayaanku.
Namamu kini sebuah momok bagi pikiranku. Aku berhari-hari
mencoba terapi diri. Tetapi namamu masih melayang-layang dipikiran ini. Ini
sebuah cinta? Bukan, aku lelah mengatakan bahwa ini cinta. Aku benci. Aku
membencimu. Aku bosan terus memikirkanmu. Kemana aku melangkah, banyak hal yang
mengingatkanmku padamu. Hey, bisakah kau matikan lagu itu!? Kau tidak tahu aku
sedang bermesraan dengan makhluk hitam jahat yang kini mendekap erat diriku?
Payah. Pergi menjauhlah, aku akan bahagia melambaikan kedua tangan kearahmu,
mengucapkan selamat tinggal dan melupakan sampai jumpa. Jangan takut, kau boleh
rindu kepadaku, tapi aku yakin tak bisa sepenuhnya membalas rindu bagai kala
itu. Aku terlanjur jahat kepadamu.
Memiliki keluarga besar adalah anugerah tersendiri bagi
seseorang. Disana kau bisa berbagi cerita, tawa, canda, air mata. Tapi
bagaimana dengan yang tidak memiliki keluarga? Mereka bagai sebatang kara di
dunia dan ingin segera mengakhiri hidup agar tidak terlampau lama merasakan apa
itu kehilangan, karena mereka telah hilang. Ada yang sulit mengakui anggota
keluarga sendiri, lantaran tercemar nama baiknya. Ada juga karena rasa iri,
maka berusaha menjatuhkan anggota keluarganya sendiri. Entah bagaimana rasanya
dicela, dijatuhkan, dihina bagai tak berguna didepan anggota keluarga lainnya.
Atau bahkan diadu domba oleh keluarganya sendiri. Ingin rasanya menyayatkan
pisau tumpul kearah leher mereka, sama seperti rasa hati yang dicela
habis-habisan. Apakah yang membuat mereka saling menghancurkan? Apakah mereka
terlalu terbuai kekayaan? Hingga tak ingin sekalipun peduli pada anggota
keluarga yang membutuhkan? Semua itu adalah cerita masing-masing orang. Dan
sekali lagi, aku hanya menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar