Senin, 28 Mei 2012

Paragraf Kebencian?


Ketika kebencian merasuk dalam dirimu, mungkin ada beberapa yang mengungkapkan dengan cara ini. Tuliskan semua dengan tawa licik. Tumpahkan semua dengan rasa bahagia dan kau akan puas. Tetapi, balas dendam adalah hal terindah. Oh, maaf aku jahat. Aku hanya menulis loh.

Masih sempurna mengeja rindu? Aku lupa bagaimana kau merayuku. Kata-kata itu terlontar dari bibir manismu. Sungguh menawan aktingmu, layaknya seorang pangeran yang dapat memikat seluruh putri kerajaan di negeri ini. Kepuasan pribadi yang kau rasakan, bagaimana dengan mereka yang benar menyayangimu dengan sepenuh hati? Kurasa, kau harus bertanggung jawab pada hati-hati yang tersakiti diluar sana. Aku, memang satu dari mereka. Namun terima kasih, kau terlalu payah untuk mempertahankan kepercayaanku.
 
Namamu kini sebuah momok bagi pikiranku. Aku berhari-hari mencoba terapi diri. Tetapi namamu masih melayang-layang dipikiran ini. Ini sebuah cinta? Bukan, aku lelah mengatakan bahwa ini cinta. Aku benci. Aku membencimu. Aku bosan terus memikirkanmu. Kemana aku melangkah, banyak hal yang mengingatkanmku padamu. Hey, bisakah kau matikan lagu itu!? Kau tidak tahu aku sedang bermesraan dengan makhluk hitam jahat yang kini mendekap erat diriku? Payah. Pergi menjauhlah, aku akan bahagia melambaikan kedua tangan kearahmu, mengucapkan selamat tinggal dan melupakan sampai jumpa. Jangan takut, kau boleh rindu kepadaku, tapi aku yakin tak bisa sepenuhnya membalas rindu bagai kala itu. Aku terlanjur jahat kepadamu.

Memiliki keluarga besar adalah anugerah tersendiri bagi seseorang. Disana kau bisa berbagi cerita, tawa, canda, air mata. Tapi bagaimana dengan yang tidak memiliki keluarga? Mereka bagai sebatang kara di dunia dan ingin segera mengakhiri hidup agar tidak terlampau lama merasakan apa itu kehilangan, karena mereka telah hilang. Ada yang sulit mengakui anggota keluarga sendiri, lantaran tercemar nama baiknya. Ada juga karena rasa iri, maka berusaha menjatuhkan anggota keluarganya sendiri. Entah bagaimana rasanya dicela, dijatuhkan, dihina bagai tak berguna didepan anggota keluarga lainnya. Atau bahkan diadu domba oleh keluarganya sendiri. Ingin rasanya menyayatkan pisau tumpul kearah leher mereka, sama seperti rasa hati yang dicela habis-habisan. Apakah yang membuat mereka saling menghancurkan? Apakah mereka terlalu terbuai kekayaan? Hingga tak ingin sekalipun peduli pada anggota keluarga yang membutuhkan? Semua itu adalah cerita masing-masing orang. Dan sekali lagi, aku hanya menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar