Malam tanpa ada setitik cahaya yang menemani. Kegelapan pekat erat menyelimuti. Dingin yang menusuk, memeluk. Bagai sebuah tragedi kehancuran telah terjadi. Matikah kota ini? Apakah aku yang sedang bermimpi? Tak satupun hal yang bisa kulihat. Mungkinkah aku yang mati?
Kucoba buka lebar-lebar mataku. Tak bisa, tak bisa. Ku tak
melihat apapun. Hitam. Kelam. Pekat.
Mula-mula kupikir aku telah tiada. Tapi ku menemukan secerca
cahaya. Yang perlahan memaksaku bangkit untuk mendekatinya. Setapak demi
setapak. Oh, kutemukan aku bermimpi.
Seberkas sinar matahari bangunkanku, aku baru saja sadar
dari mimpi aneh itu. Kupikir jiwaku sirna diterpa angin lalu. Kusangka semua
akan berakhir, tapi rupanya?
Aku duduk termanggu. Penasaran arti mimpiku. Kuberjalan
keluar. Aku tak menemukan satu orang pun. Aku tak melihat anak-anak yang riang
gembira melangkah ke sekolah, tak melihat mobil-mobil yag lalu lalang yang
mungkin terkadang saling beradu klakson, tak melihat sekelompok ibu-ibu yang
setiap pagi mengerumuni toko-toko bahan makanan. Apakah aku masih bermimpi?
Kulangkahkan kakiku menuju teras rumah, terus melangkah. Aku
berada tepat pada garis marka. Menoleh ke arah manapun seakan aku hilang. Ya,
aku hilang.
Mendadak hujan turun dengan derasnya. Mengguyur habis seisi
kota yang sepi ini. Menyapu sampah yang berserakan lalu dibawanya sampah oleh
air ke hilir.
Pandanganku kabur, semua putih dan hitam. Aku memejamkan
mata. Aku jatuh tergeletak di tengah jalan. Tak ada seorangpun yang melihat.
Cerita ini tampaknya terus berlanjut. Aku kembali terbangun.
Aku tak tahu dimana aku berada sekarang. Siapa yang memindahku? Di kota tak ada
orang. Suara langkah sayup-sayup terdengar. Bayangan mulai terlihat. Ternyata
itu milik sesosok wanita. Hatiku dirundung ketakutan. Mungkinkah dia seorang
dewi kematian?
Tampak senyum tersungging di bibirnya yang indah. Apa? Apa
maksudnya? Dia begitu sempuna. Berbeda denganku. Dia berkata “kau tak
sendirian”
“Apa maksudmu ku tak sendirian? Aku bagai terdampar di pulau
tak berpenghuni” sanggahku. Wanita itu memejamkan matanya lalu berkata.
“Bangunlah, bangunlah dari mimpi burukmu. Janganlah kau bersikukuh di tempat
yang tak kau ingin tinggal” Katanya lalu menghilang. Aku terbangun. Ya aku
terbangun. Aku merasakan kehidupan biasa yang aku jalani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar