Senin, 28 Mei 2012


Malam tanpa ada setitik cahaya yang menemani. Kegelapan pekat erat menyelimuti. Dingin yang menusuk, memeluk. Bagai sebuah tragedi kehancuran telah terjadi. Matikah kota ini? Apakah aku yang sedang bermimpi? Tak satupun hal yang bisa kulihat. Mungkinkah aku yang mati?
Kucoba buka lebar-lebar mataku. Tak bisa, tak bisa. Ku tak melihat apapun. Hitam. Kelam. Pekat.
Mula-mula kupikir aku telah tiada. Tapi ku menemukan secerca cahaya. Yang perlahan memaksaku bangkit untuk mendekatinya. Setapak demi setapak. Oh, kutemukan aku bermimpi.
Seberkas sinar matahari bangunkanku, aku baru saja sadar dari mimpi aneh itu. Kupikir jiwaku sirna diterpa angin lalu. Kusangka semua akan berakhir, tapi rupanya?
Aku duduk termanggu. Penasaran arti mimpiku. Kuberjalan keluar. Aku tak menemukan satu orang pun. Aku tak melihat anak-anak yang riang gembira melangkah ke sekolah, tak melihat mobil-mobil yag lalu lalang yang mungkin terkadang saling beradu klakson, tak melihat sekelompok ibu-ibu yang setiap pagi mengerumuni toko-toko bahan makanan. Apakah aku masih bermimpi?
Kulangkahkan kakiku menuju teras rumah, terus melangkah. Aku berada tepat pada garis marka. Menoleh ke arah manapun seakan aku hilang. Ya, aku hilang.
Mendadak hujan turun dengan derasnya. Mengguyur habis seisi kota yang sepi ini. Menyapu sampah yang berserakan lalu dibawanya sampah oleh air ke hilir.
Pandanganku kabur, semua putih dan hitam. Aku memejamkan mata. Aku jatuh tergeletak di tengah jalan. Tak ada seorangpun yang melihat.
Cerita ini tampaknya terus berlanjut. Aku kembali terbangun. Aku tak tahu dimana aku berada sekarang. Siapa yang memindahku? Di kota tak ada orang. Suara langkah sayup-sayup terdengar. Bayangan mulai terlihat. Ternyata itu milik sesosok wanita. Hatiku dirundung ketakutan. Mungkinkah dia seorang dewi kematian?
Tampak senyum tersungging di bibirnya yang indah. Apa? Apa maksudnya? Dia begitu sempuna. Berbeda denganku. Dia berkata “kau tak sendirian”
“Apa maksudmu ku tak sendirian? Aku bagai terdampar di pulau tak berpenghuni” sanggahku. Wanita itu memejamkan matanya lalu berkata. “Bangunlah, bangunlah dari mimpi burukmu. Janganlah kau bersikukuh di tempat yang tak kau ingin tinggal” Katanya lalu menghilang. Aku terbangun. Ya aku terbangun. Aku merasakan kehidupan biasa yang aku jalani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar