Masa
SMA adalah masa yang paling unik lanjutan SMP. Banyak dari mereka yang lulusan
SMA aja masih ingin kembali lagi. Mereka ketagihan? Ah memang begitu takdirnya.
Disebuah
SMA swasta elit di Jakarta baru saja memasuki tahun ajaran baru. Masa orientasi
yang biasanya diadakan memang memiliki kesan sendiri bagi yang mengalaminya.
Terlihat
seorang cewek berumur 14 tahun mengenakan seragam biru putih dengan rambut yang
diikat sebanyak tujuh belas ikatan dan mengenakan sepatu yang berbeda warna,
berjalan agak gugup di koridor sekolah. Ia mencari-cari dimana kelasnya.
Ditapakinya anak tangga satu persatu dan, ia menabrak seseorang.
“So..
sori, gue gak sengaja.”
“Maaf
juga,” cewek itu memberanikan diri untuk bertanya. “Anyway, lu kelas berapa?”
“Gue
sepuluh tiga, tapi gue belom ketemu kelasnya. Lu sendiri?”
“Eh
sama, cari bareng mau gak?”
“Boleh
deh. Oh iya, gue Audrey.”
“Gue
Alexa, salam kenal.” Mereka bersalaman dan saling melempar senyum. Setega
itukah? Senyum dilempar-lempar?
Mereka
menemukan kelasnya yang ternyata ada di lantai empat. Seharusnya mereka bisa
menggunakan lift untuk menuju kesana tetapi sayang, liftnya sedang dalam
perbaikan. Setelah berkenalan dengan beberapa teman sekelasnya, mereka pun
akhirnya duduk sebangku. Masa orientasi dimulai.
Tetapi
banyak yang mengeluh jika masa orientasi tahun ini benar-benar membosankan.
Kebanyakan dari mereka memilih tidur di kelas saat yang lainnnya disuruh
mengumpulkan tanda-tangan pengurus OSIS.
“Heh,
lu gak ikut yang lain?” Alexa menyenggol Audrey yang tertidur dengan mulut
terbuka diatas meja. Audrey kaget dan duduk tegang terbelalak. Alexa memasang
wajah datar.
“Heleh
ngapain? Ngantuk, gak guna juga. Hoaaam…” jawabnya setengah sadar lalu kembali
meletakkan kepalanya diatas meja.
“Kalo
gak ngumpulin itu hukumannya disuruh jadi petugas upacara waktu udah masuk
nanti.”
“Heh?
Gapapa asal jangan disuruh sedot wc yang mampet aja.”
Kenyataannya,
siswa baru tahun ini memang tidak tertarik dengan masa orientasi yang diadakan
disekolah tersebut. Pengurus OSIS yang sudah siap untuk terkenal dan dimintai
tanda-tangannya hanya bisa ngedumel kesel karena cuma sedikit yang minta tanda
tangan.
“Karena
sampai hari ketiga hanya sebagian kecil yang mengumpulkan tanda tangan pengurus
OSIS, hukuman dihilangkan.” umum sang ketua OSIS pada saat apel penutup masa
orientasi.
“Kenapa
kak?”
“Kebanyakan
ya dek, masa petugasnya banyak trus yang jadi peserta upacaranya cuma sekelas?”
Kelas
sepuluh tiga yang seluruhnya tidak mengumpulkan itu hanya tertawa dan mencibir
sang ketua OSIS. Hampir saja ada kontroversi antara sepuluh tiga dan pengurus
OSIS, mereka menahannya karena ada tatapan tajam dari beberapa guru-guru yang
killer. Dan mereka tahu jikalau sampai ada keributan, toilet sekolah
benar-benar akan bersih seperti baru. Siapa lagi kalau bukan murid yang
bersalah yang dipaksa untuk membersihkannya.
Penutupan
masa orientasi dilakukan seperti pada umumnya, yaitu demo ekstra kurikuler.
Banyak macam ekstra kurikuler yang mereka bentuk. Ada futsal, band, parkour,
tae kwon do, sampai rugby yang american football ekstrem itu. Alexa bersemangat
sekali menonton demo yang ditunjukan dari masing-masing ekstra kurikuler.
Audrey hanya memelototi kucing yang sedari tadi menggaruk-garuk pasir didekat
tempat parkir.
Ia
menaiki angkot yang bernomor sama seperti nomor terakhir ponselnya. Si sopir
angkot langsung mengemudi dengan liar seperti Knight Bus di Harry Potter.
Tetapi mereka tidak melewati dua bus didepannya.
Sesampainya
di gang menuju sekolahnya, Alexa turun dengan kaki yang gemetaran. Ia mengutuk
sopir itu. Dengan muka yang kusut ia berjalan menuju sekolah. Tiba-tiba sebuah
mobil sedan hitam membunyikan klakson kearahnya. Si pemilik menurunkan kaca,
itu ternyata Audrey dengan ayahnya. Alexa langsung masuk ke mobil dan menuju
sekolah bersama-sama.
“Kusut
amet muke lu, kenapa dah?”
“Gue
naik angkot yang sopirnya penghuni rumah sakit jiwa. Gile, parah banget
nyetirnya kayak punya nyawa sepuluh. Dikata Crash Bandicoot kali yak.”
“Udah
lain kali jangan naik yang itu.”
Semester
dua telah berakhir. Sebagai penutupan dan refreshing para guru dan murid.
Sekolah mengadakan classmeeting. Semua murid diajak untuk mengikuti
pertandingan-pertandingan yang diadakan oleh sekolah. Alexa mengikuti lomba
melukis pemandangan yang juara satu bisa disabetnya. Audrey mengikuti lomba
pidato bahasa Inggris dan menempati tempat kedua. Selama empat hari
berturut-turut mereka dihibur oleh berbagai macam pertandingan yang diadakan.
Hari
ini hari kedua pelaksanaan classmeeting. Dengan wajah yang sama-sama ceria,
Alexa dan Audrey bertemu di depan kelas dua belas Sains yang berada di lantai
dua.
“Gue
juara satu lukis!”
“Wah
keren! Congrats ya!”
“Makasih
ya, lu gimana pidatonya?”
“Juara
dua, hehehe”
“Lumayan
kali, keren malah. Masuk tiga besar.”
“Yang
penting naik podium gue—“ Audrey memandang dua tim yang sedang bertanding
futsal dari lantai dua. “Eh itu kelasnya sepupu gue, si Andrew.”
Mereka
langsung menonton pertandingan futsal itu dengan seksama dan dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya. Lalu Bung Karno pun kembali terdiam.
Audrey
terfokus pada salah seorang pemain futsal yang tak lain satu tim dari
sepupunya. Matanya menyipit, lalu terbelalak lebar. “Ih itu ganteng! Yang nomor
punggungnya sepuluh!” senggolnya pada Alexa.
“Iya eh
ganteng.”
“Huwaaa
ganteng bangeeet!” Audrey memandangi cowok itu dengan mata berbinar dan aura
yang mengkilat-kilat.
“Kok
kayaknya gue pernah tau ya? Anak kelas sebelah mungkin? Itu juga ganteng.”
“Ih ini
sepuluh lima, yang disepuluh empat itu Josh bukan? Yang anak rugby itu?”
“Nahloh
muka mereka samaan gimana itu?”
“Itu
tandanya kembar, odooong—“ mereka tertawa dan tersadar bahwa pertandingan telah
berakhir dan Audrey berinisiatif untuk menemui sepupunya yang akrab dengannya
itu. “Ayuk samperin Andrew!” Audrey menarik tangan Alexa yang sedang menopang
dagunya, benturan tembok pun tak terelakan lagi. Alexa berlari mengejar Audrey
sambil mengusap keningnya.
Sesampainya
dibawah, Andrew senyum kearah Audrey yang berjalan tak lain bila kearahnya.
“Congrats,
Audrey! Jadi juara dua pidato bahasa Inggris.” Audrey mengangguk senang. Si
nomor punggung sepuluh yang tadi disinggungnya, ikut melempar senyum kearah
Audrey. Senyumnya yang kelewat menawan itu ternyata telah menghentikan detak
jantung Audrey. Audrey pun pingsan di kerumunan anak kelas sepuluh lima. Warga
sekolah yang melihatnya hanya bengong.
Pembagian
raport adalah hal yang menegangkan bagi setiap murid. Disitu kita bisa
mengalami menerima nilai tinggi, rendah, ocehan orang tua, sampai ocehan guru
yang menagih dana administrasi sekolah bagi murid yang belum melunasinya. Tidak
bagi Audrey dan Alexa, mereka bisa puas dengan hasil dua semester terakhir yang
mereka tempuh di kelas sepuluh.
Makan
malam bersama adalah tradisi sekolah ini setelah penerimaan raport. Sehari
setelah itu, para murid diundang untuk datang ke aula sekolah pada pukul 18.00
untuk mengadakan makan malam bersama. Wajah para murid yang datang sangat
antusias, karena ini terakhir kalinya mereka bertemu dengan kelas masing-masing
sebelum diacak lagi pada tahun kedua nanti.
Kepala
sekolah membuka acara makan malam dengan sambutan diiringi tepuk tangan meriah.
Lalu para murid pun dipersilahkan untuk makan.
“Makan
gratis tiap taunnya…” celetuk seorang murid sepuluh tiga. Entah sebenarnya
kelas itu penuh dengan anak-anak yang aneh, malas tetapi mereka pintar.
Audrey
asyik twitteran sambil menyendok makanannya, ia hanya memakan separuh dari
piringnya. Segelas sirup diteguknya habis, lalu ia bersendawa keras-keras. Spontan
satu kelas tertawa mendengarnya. Berbeda dengan Alexa yang lahap menghabiskan
makanan hingga piringnya bersih, namun sayang, ia cegukan.
Alexa
berniat mengambil segelas sirup yang berdampingan dengan gelas milik Diva, anak
kelas sepuluh dua yang terkenal dengan dandanannya yang ingin glamor seperti
putri cantik disekolah. Naas, Alexa menyenggol gelas milik Diva dan tumpahlah
seisi gelas itu, membanjiri rok terbaru milik Diva. Dengan wajah yang sangat
marah, Diva berdiri menghadap Alexa.
“Kenapa
lu?”
“Liat
ini rok gue kenapa?!”
“Basah,
hehe sori ye, sori banget.”
Diva mengambil
gelas milik teman disebelahnya dan menuangkannya ke kepala Alexa. Alexa berdiri
dan menarik kerah Diva. Wajah para murid sepuluh dua dan tiga tertuju pada dua
cewek yang saling bertatapan itu. Teriakan-teriakan dan pingsan yang tak
penting pun berdatangan. Audrey menatap temannya itu tengan tatapan “Wau!”
Diva
kembali melumuri baju Alexa dengan mayonaise. Alexa yang tak terima, mendorong
Diva hingga terjatuh dan meraih sebotol saus sambal.
“Nikmati
keramasmu, Nona Cantik.” Alexa menuangkan saus sambal dan mengacak-acak rambut
Diva. Setelah puas, Diva terbangun dan segera keluar ruangan sembari menangis
bombay diikuti beberapa temannya yang menatap sinis pada Alexa, namun Alexa hanya
tertawa mencibir. Kelas sepuluh tiga bersorak ceria. Guru-guru tak
memperhatikan apa yang terjadi karena sedang asyik menikmati makanannya,
soalnya menu makanan tahun ini lebih enak dari tahun kemarin.
“Buset,
lu apain tuh bocah ampe nangis?”
“Keramas
doang”
“Cuma
pake shampo kok!” kata salah seorang murid sepuluh tiga sembari menunjukkan
sebotol saus sambal dengan merk yang disensor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar