Aku tidak peduli dengan angka angka itu, biarkan mereka
bertambah ataupun berkurang dan aku akan terus berlarian diatasnya. Menari
dengan indah dan cantiknya bersama senyuman yang takkan pudar. Dan aku akan
terus melakukanya hingga aku tidak tahu berapa angka dapat menghitung.
Aku kebingungan. Sangat bingung. Aku bertanya kemana-mana
tapi tak ada jawaban, langit apa kau memperhatikanku?
Hatiku gugur bagai dedaunan di musim kemarau. Perasaanku
mati di medan perang. Aku mundur beberapa langkah dan aku akan melompat
menerkamu untuk terakhir kalinya.
Aku berhasil, ya aku berhasil. Tapi kau mencoba untuk
menghindariku. Semua keegoisanku. Semua obsesiku terhadapmu.
Rasa cinta yang semula utuh, kini habis digerogoti kejamnya
waktu. Seberapapun kita coba bersatu, mungkin hanya jenuh yang berhasil
menguasainya.
Langit pun bersedih menyaksikan kisah kita berdua. Semua
telah jelas. Kau pun memilihnya bagaikan malaikat yang mencabut nyawa dengan
paksa dan amat kejam.
Diantara rela dan tidak aku singgah. Haruskah aku benar-benar
melepas rasa ini? Sudah jelas kau melakukan hal yang bertolak belakang dengan
pemersatuan.
Kau tersenyum padaku entah apa artinya. Yang jelas aku tau
satu hal kau rela melepasmu demi orang yang belum lama kau kenal.
Dilangkah pertama kepergianmu, aku bisa merasakan hal berat
menahanmu. Tidak untuk kedua dan ketiga, kau berlari menjauh dariku. Disaat
itulah aku menginginkanmu kembali.
Aku menangis. Merintih. Berlutut. Tak sanggup lagi untuk
berdiri tanpamu, hai sandaranku. Jenuh? Ya jenuh. Kau mencampakan, membuang
segala yag telah kita bina dengan indah bagai cerita dongeng yang kuyakini akan
“happy ending”. Aku retak. Seretak-retaknya kaca yang pecah menjadi
pecahan-pecahan seperti yang saat ini kurasakan yaitu rintihan hujan mengenai
badanku. Menyiksaku. Menganiayaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar